TEMPOINVESTIGASI.COM
SIMALUNGUN — Ratusan hektare tanaman kelapa sawit muda milik PTPN IV Regional 2 Kebun Balimbingan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, terpantau mengalami serangan hama ulat dalam skala cukup masif.
Serangan hama ulat api diduga jenis asigna tersebut terpantau berada di areal Afdeling I, terutama pada tanaman tahun tanam (TT) 2022 dan 2023 yang tersebar di Blok A, D, C serta sejumlah blok di sekitarnya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena tanaman yang terserang merupakan tanaman muda yang masih berada dalam fase pertumbuhan dan membutuhkan pemeliharaan secara intensif. Serangan hama yang tidak segera dikendalikan berpotensi mengganggu proses pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas kebun.
Serangan ulat api diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada daun tanaman kelapa sawit. Apabila tingkat serangan terus meningkat dan tidak ditangani secara efektif, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kemampuan tanaman dalam mendukung pembentukan dan perkembangan tandan buah segar (TBS).
Dalam jangka panjang, gangguan pertumbuhan tanaman muda berpotensi menyebabkan produktivitas tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Bahkan, apabila kerusakan berlangsung berat dan penanganannya terlambat, tanaman dapat mengalami penurunan produksi secara signifikan.

Pemerhati perkebunan, Fedrick Hutabarat, saat dimintai tanggapan oleh kru media melalui sambungan telpon WhatsApp,pada Rabu,(02/09/26) mengatakan bahwa pemeliharaan tanaman muda kelapa sawit membutuhkan anggaran yang besar sehingga harus diikuti dengan pengawasan dan perawatan yang optimal.
“Tanaman sawit muda merupakan investasi jangka panjang PTPN IV PalmCo. Karena itu, anggaran yang telah dialokasikan untuk pemeliharaan harus benar-benar diikuti dengan pengawasan yang maksimal, sehingga tanaman dapat tumbuh sehat dan nantinya memberikan produksi sesuai dengan target perusahaan,” ujar Fedrick.
Menurutnya, serangan hama ulat yang terjadi pada tanaman muda tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan biasa,serangan terjadi diduga akibat manajemen lalai dalam identifikasi dini,kegiatan seperti telling global tidak dijalankan sesuai SOP.Dibutuhkan langkah pengendalian yang cepat dan tepat untuk mencegah tingkat serangan semakin meluas.
“Penanganan ulat api maupun ulat kantong harus dilakukan secara cepat, terukur dan menyeluruh. Selain tindakan pengendalian, pemantauan secara berkala juga penting dilakukan untuk memastikan serangan tidak menyebar ke blok-blok lainnya,” terangnya.
Fedrick menilai persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kondisi tanaman saat ini, tetapi juga menyangkut keberlangsungan produktivitas kebun kebun unit di jajarang Regional-2 pada masa mendatang.
“Kalau tanaman muda mengalami gangguan pertumbuhan sejak awal, tentu akan berpengaruh terhadap potensi produksinya ketika memasuki masa menghasilkan. Karena itu, tanaman yang sudah menghabiskan biaya pemeliharaan cukup besar harus dijaga agar dapat tumbuh optimal,” ujarnya.
Ia berharap manajemen PTPN IV Regional 2, khususnya Kebun Balimbingan, dapat segera melakukan langkah konkret untuk mengendalikan serangan hama sekaligus memperkuat pengawasan terhadap areal tanaman muda.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan investasi perusahaan pada tanaman tahun tanam 2022 dan 2023 dapat dipertahankan, sehingga tanaman mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal sesuai potensi serta target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.ucapnya.
Demi keseimbangan berita awak media telah berupaya melakukan konfirmasi dengan Manajer Unit Kebun Balimbingan M.Choliq Lubis melalui pesan WhatsApp Senin,(31/8/26)sore hari terkait penyebab maraknya serangan hama ulat, maupun langkah pengendalian apa yang telah dilakukan oleh manajemen,namun konfirmasi yang dilayangkan tidak kunjung masuk diduga manajer Balimbingan melakukan pemblokiran terhadap nomor awak media.
Hingga berita ini dirilis kemeja redaksi,pantauan awak media dilokasi serangan tepatnya di blok 22D dan 23A afdeling 1 masih tampak mendominasi dan belum mampu dituntuskan oleh manajemen kebun Balimbingan.”Red*
Reporter: Robert HD Girsang.



